Rabu, 19 Januari 2011

ANALISIS TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM NASKAH DRAMA ADUH


ANALISIS TOKOH DAN PENOKOHAN
DALAM NASKAH DRAMA ADUH
SEBUAH PENDEKATAN PSIKOANALISIS


DISUSUN SEBAGAI TUGAS AKHIR
MATA KULIAH TELAAH DRAMA


DISUSUN OLEH :

EUNIKE YOANITA
120710071

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2009


KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan berkat dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul : “Analisis Tokoh dan Penokohan Naskah Drama Aduh  sebuah pendekatan Psikoanalisis”
Makalah ini disusun dan disajikan sebagai  salah satu tugas mata kuliah Telaah drama.
       Penulis menyadarai bahwa penyusunan makalah  ini masih banyak kekurangan, namun penulis telah berusaha seoptimal mungkin dalam mengerjakan makalah ini, untuk itu saran dan kritiknya dari semua pihak yang bersifat membangun untuk memperbaiki dan melengkapi segala kekurangan sangat kami harapkan. Harapan terakhir semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.









PENDAHULUAN

Dalam analisis yang kita lakukan, kami mencoba mengangkat sebuah konteks yang ada dalam analisis structural yang kami tangkap dalam naskah Aduh karya Putu Wijaya. Objek kajian yang kami angkat dari naskah drama ini adalah tentang tokoh dan penokohan melalui pendekatan psikoanalisis, didasarkan atas pengalaman hermeneutik pembacaan kami, kami menangkap unsur-unsur yang dirasa lebih menarik untuk dikaji.
            Drama merupakan gambaran konflik-konflik kehidupan manusia. Dimana dalam drama tergambarkan bagaimana manusia menghadapi suatu permasalahan yang ada. Bagaimana cara manusia tersebut menghadapi suatu permasalahan ternyata banyak sekali faktor yang mempengaruhinya di antaranya yaitu faktor psikologis manusia tersebut.
            Dalam naskah darama Aduh karya Putu Wijaya ini, digambarkan sekelompok orang yang dihadapkan pada suatu masalah. Dimana ada seseorang yang sedang terluka meminta pertolongan. Dari sinilah awal konflik-konflik yang ada.
Mereka terjerat dalam kepaguan, apakah orangini mau ditolong atau dibiarkan saja. Kalau tidak ditolong kasihan tapi kalau ditolong nanti seperti pengalaman yang dulu bahwa orang yang minta tolong hanya pura-pura malah mau berbuat jahat pada mereka. Nah, disinilah gambaran gejolak psikilogis pelaku terlihat jelas.



RUMUSAN MASALAH.
            Permasalahan yang dibahas dalam naskah ini adalah Analisis tokoh dan penokohan melalui pendekatan psikoanalisis. Psikoanalisis yang behubungan dengan tokoh dan penokohan dalam naskah drama Aduh karya Putu Wijaya akan dirumuskan sebagai berikut, yaitu membahas tentang hubungan antara sastra dan psikologis.

TUJUAN PENELITIAN
·         Mengkaji lebih dalam tokoh dan penokohan dalam naskah drama Aduh
·         Mengetahui pengaruh psikologis terhadap karakter tokoh-tokoh dalam nakah tersebut.
·         Mengetahui keadaan struktural yang membangun naskah drama tersebut.









PEMBAHASAN

Naskah Drama Aduh merupakan salah satu karya sastra bentuk teks atau naskah drama. Naskah tersebut lebih menarik dinikmati apabila disampaikan dalam bentuk fretikal. Dari cara penyampaian berupa fretikal maka pesan – pesan yang disampaikan akan lebih cepat diterima oleh para penikmat seni, disamping itu karakteristik – karakteristik setiap tokoh akan lebih jelas terlihat.
            Kajian sastra melalui pendekatan psikologis dalam naskah drama aduh karya Putu Wijaya tersebut memiliki hubungan erat dalam masyarakat. Dimana naskah drama aduh tersebut memberikan sebuah gambaran tentang bagaimana seseorang dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang ada dihadapannya dengan berbagai pemikiran dan alasan yang selalu membingungkan dan berada dalam jurang keragu – raguan.
Berbagai macam pola pikir yang terdapat dalam pola hidup kehidupan masyarakatmenjadikan suatu perbedaan baik dalam hal mengemukakan pendapat atau tindakanPerbedaan-perbedaanya itulah  yang nantinya akan menimbulkan  suatu konflik dalamcerita yang terdapat pada naskah ”aduh” .
Suatu konflik yang diakibatkan karena perbedaan pendapat yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat menjadikan dampak yang sangat serius, yaitu kematian seseorang, karena lambatnya pola pikir dan terlalu banyak berperasangka buruk, sehinga lamban untuk menolong.
Cara pikir masyarakat tersebut dipengaruhi oleh pengalaman yang pernah mereka temukan.  Mereka pernah menolong seseorang yang meminta pertolongan pada mereka namun akhirnya mereka malah tertipu. Orang yang mereka tolong malah berbuat jahat pada mereka. Sehingga mereka menjadi was – was jika ingin menolong seseorang.
Disamping itu naskah drama  aduh  ini memberikan   gambaran bagaimana menyimpulkan suatu sikap diantara banyak pendapat – pendapat dan pertimbangan – pertimbangan yang ada dari sekian banyak orang. Dimana dari sekian banyak orang ini memiliki pandangan yang berbeda – beda dan dipengaruhi oleh pengalaman – pengalaman yang pernah mereka temui, sehingga mereka menjadi was – was bila ingin melakukan sesuatu atau mengambil keputusan.
Dalam naskah drama aduh karya Putu Wijaya ini pengarang tidak memberikan nama – nama khusus. Pengarang hanya menyebutkan para tokoh dengan sebutan Seseorang, yang pemimpin dari penokohan ini pengarang mencoba melukiskan para tokoh – tokohnya dengan karakteristik yang mereka miliki.
Sesuai dengan judul yang tertera “ ADUH “ maka terlintas dari kehidupan masyarakat saat itu lewat sebuah naskah drama “ ADUH “ dimana dalam naskah tersebut di deskripsikan pemikiran manusia penuh dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran alami yang serba negative tentang realita yang ada di hadapan mereka. Dan salah satu faktor yang mempengaruhi mereka yaitu sebuah pengalaman. Dimana masyarakat tersebut pernah dibohongi atau dijahati oleh seseorang yang mereka tolong. Pengalaman tersebut membawa pengaruh tersendiri pada psikologis mereka menjadi was – was dan berpikir panjang jika ingin menolong seseorang.
Pemikiran yang panjang memang kadang kala diperlukan dalam memecahkan suatu masalah. Namun bila keadaan sudah gawat hendaknya agar cepat dalam mengambil keputusan. Keterlambatan dalam mengambil keputusan akan berakibat fatal, apabila keadaan sudah gawat seperti dalam naskah drama aduh ini terlarut dalam perdebatan pendapat untuk mengambil keputusan, dan mereka terlalu membesar – besarkan masalah dan akhirnya orang yang minta tolong tidak tertolong malah menemui ajal. Jika kejadian sudah begitu fatal yang ada hanyalah sebuah penyesalan , mereka dihantui oleh rasa bersalah dan menyesal.















HUBUNGAN SATRA DAN PSIKOANALISIS

            Keterlibatan disiplin ilmu diluar satra adalah karena satra itu sendiri mengalami perkembangan baik segi bentuk maupun isi, dilihat dari perkembangan isi dan tema-tema karya satra yang terus makin tampak menyelusuri perkembangan zaman, hal ini dapat diamati dari berbagai cerita yang selalu mengikuti kehidupan masyarakat. Maka degan itu bidang-bidang seperti sosial, psikologi, filsafat yang sering dipakai sebagai sebagai alat bantu dalam menganalisis sebuah karya satra. Keterlibatan ini merupakan hal yang biasa karena karya satra berbicara tentang manusia serta dinamika sosial yang bersifat realistis.
            Salah satu bidang ilmu lain yang berhubungan dengan penelitian sastra ini adalah bidang psikoanalisis, yaitu suatu cabang ilmu psikologi yang menyelidiki prilaku manusia melalui proses bawah sadar. Pendekatan psikoanalisis dapat dipakai untuk menganalisis tokoh dan penokohan dalam sebuah karya sastra karna baik sastra maupun psikoanalisis sama-sama berbicara tentang manusia dan kehidupannya.
            Dalam meneliti karya sastra, khususnya penokohan, pendekatan psikoanalisis dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memahami latar belakang tokoh, baik segi kejiwaan, sikap, prilaku, maupun tindakan. Dari penokohan ini dapat dilihat pula hubungannya dengan proses penciptaan karya seperti yang diungkapkan oleh Supardi Muradi (1988 : 56-57 dalam lukman, 1995 75). Bahwa dengan pendekatan psikoanalisis, para pengkritik dapat menentukan seberapa jauh kesan pemikiran dalaman pengarang sewaktu menghasilkan karya tersebut.

HUBUNGAN PSIKOANALISIS DAN SASTRA

            Salah seorang ahli psikolog yang merangkaikan penelitiannya dengan karya sastra yaitu Sigmund Freud. Freud yang mengembangkan teoroi psikoanalisis sebenarnya, secara tidak langsung dikaji dengan karya sastra Yunani. Ini dapat diperhatikan dari pemakaian kata ” Oedipus Complex ” untuk menjelaskan mengenai suatu hasrat untuk mengawini Ibu sendiri. Padahal kata tersebut adalah berasal dari sebuah karya sastra (cerita) Yunani, yaitu ”Oedipus Sang Raja ” karya Shophoches.
            Walaupun begitu, masing-masing mempunyai sudut pandang dan kepentingan yang berbeda. Pengarang menjadikan manusia dan pengalamannya sebagai objek estetis. Lewat kepekaan, daya imajinasi dan kreatifitas yang tinggi, pengarang mengekspresikan kehidupan dan pengalaman manusia tersebut kedalam bentuk karya sastra. Sedangkan psikoanalisis memandang manusia sebagai objek kejiwaan semata-mata. Oleh karena itu, seperti kata Darmanto Jatman (1985 : 161 dalam Lukman 1995 : 76), bahwa karya sastra adalah bersifat kreatif, subjektif, manusiawi dan intuitif. Sedangkan psikoanalisis pula lebih bersifat elaboratif, objektif, universal dan rasional.






TEORI STRUKTUR TENTANG TOKOH

            Teori struktural sastra yang ada, tidak semuanya digunakan, tetapi hanya teori yang relevan denganpumusan masalah saja, yaitu tentang tokoh. Peristiwa dalam karya sastra selalu diemban oleh tokoh (Aminudin, 1987 : 79). Peristiwa dalam cerita dapat dikenali melalui ucapan dan tindakan tokoh, disini peranan tokoh sangat besar dalam cerita, karena peristiwa cerita dapat atau tidak terlihat  dari segala tindakan dan ucapan tokoh cerita.
            Tokoh cerita ( character ) adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya negatif , atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan ( nurgianto, 1995 : 165).
            Berdasarkan pendapat tersebut, tokoh tidak hanya sebagai pelaku cerita tetapi sekaligus pembawa pesan pengarang. Tokoh lebih dinilai pada kualitas pribadi, sifat dan sikapnya, serta segala tindak lakunya, pada kondisi ini posisi tokoh dalam dalam cerita sejajar dengan tokoh pada dunia nyata, seolah ia merupakan manusia yang menjadikan tokoh cerita memiliki kualitas moral.
            Tokoh pertama-tama dicirikan oleh cara mereka memandang hal ihwal sekitar mereka. Tokoh dapat dilhat dari isi cerita dan perkembangan ceritanya, dengan hal tersebut gambaran tentang tokoh dapat dianalisis (Luxembung : 137-138 ). Dengan mengikuti cerita, tokoh dapat diekspresikan secara tepat sesuai dengan teks yang ada. Deskripsi tersebut dapat digunakan untuk analisis  tentang tokoh dan penokohan.
            Dalam sebuah karya sastra, sering digunakan istilah-istilah yang hampir sama dalam menyebut tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi. Tokoh sendiri menunjuk pada orangnya atau pelakunya. Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada pnempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watyak-watak tertentu dalam cerita. Dari banyaknya pendapat tersebut istilah penokohan lebih luas pengertiannya (Nurgiantoro, 1995 : 164-166 dalam Lukman 1995 :26 ).
            Mengacu pada berbagai pendapat tersebut, penelitian ini diarahkan pada penokohan, sebab dalam penokohan mencangkup tokoh, perwatakan, dan karakterisasi yang terdapat dalam cerita, dimana psikologis tokoh mempengaruhi watak, karakteristik dan perilaku tokoh.
            Dalam naskah drama Aduh ini digambarkan suatu konflik yang berawal dari pengalaman psikologis para tokoh yaitu dulu mereka pernah tertipu oleh orang yang pura-pura minta tolong kepada mereka. Mereka menolong orang tersebut namun akhirnya orang yang ditolong itu malah berbuat jahat kepada mereka.pengalaman tersebut yang membuatmereka ragu untuk menolong orang yang meminta tolong dan timbulah pedebatan-perdebatan hingga akhirnya orang yang minta tolong tersebut meninggal.





ANALISIS STRUKTUR

Ø  Tema
Landasan cerita ( ide struktural dalam cerita ). Tema juga disebut sebagai
gagasan ide atau pokok pikiran dalam suatu cerita, tema dalam sebuah cerita dapat menyampaikan amanat (pesan moral kepada pembaca). Dalam penyampaian tema pengarang tidak langsung menyebutkannya tetapi menjadi tugas pembaca untuk smencari suatu tema dalam sebuah cerita.
            Tema memberikan makna bagi sebuah cerita itu bermula. Tema menjabarkan implikasi umum dari keseluruhan cerita.tema dapat meliputi aspek kejiwaan manusia, sosial, politik, sejarah yang masing-masing dikonkretkan menjadi gagasan pokok. ( Sudjiman, 1991 : 56 dalam Lukman 1995 : 19)
Tema dalam naskah drama ”Aduh” menjelaskan tentang masalah kecil yang dibesar-besarkan. Keragu-raguan yang besar yang akhirnya membuat mereka menyesal.
Ø  Latar / setting
Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, hari dan suasana dalam peristiwa. Latar dapat memberikan informasi terhadap sebuah peristiwa lengkap dengan gambaran situasinya, sehingga pembaca dapat mengetahui keadaan peristiwa dalam cerita. Melalui itu pengarang dapat memberitahukan mengenai tempat dimana suatu peristiwa terjadi juga mengenai waktu kapan peristiwa itu berlaku. Itu seperti ini yang di sebut latar fisik.
Latar dalam sebuah cerita dapat juga berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran,prasangka, maupun gaya hidup tokoh dalam peristiwa. Faktor yang demikian bersifat latar psikologis (oleh Aminudin, 1991 : 68).
Menurut Kenney, elemen suatu latar dalam sebuah cerita terdir dari :
  1. Lokasi geografis yang aktual yaitu termasuk tpografis pemandangan, dan bagian interior suatu ruangan.
  2. Pekerjaan dan mode penampilan tokoh setiap hari.
  3. Waktu suatu kejadian itu berlaku, entah itu periode historis.
  4. Agama dan kepercayaan, moral, intelektual, sosial, dan tingkat emosional sang tokoh (Kenney, 1961 : 40 dalam Lukman,1995 : 19)
Latar tempat yang digunakan dalam naskah drama Aduh ini adalah pinggir jalan tempat orang-orang bekerja. Di sebuah lorong tempat mayat digotong. Waktu yang digunakan dalam naskah drama Aduh adalah pada sore hari saat orang-orang menemukan sosok manusia yang butuh pertolongan.
Ø  Penokohan
Tokoh adalah individu yang mengalami peristiwa atau pelaku cerita, sedangkan penokohan adalah penciptaan antara tokoh (Sudjiman, 1990 : 79 di dalam Lukman 1995 :30). Dalam suatu cerita menciptakan bermacam tokoh sesuai dengan peran dan karakternya.
Salah seorang              : Waspada untuk menjaga segala tindakannya serta perilakunya, perhatian terhadap orang-pranng yang ada disekitarnya, poeduli dengan segala sesuatu hal yang telah terjadi, mudah mengeluh ketika menghadapi permasalahan yang rumit pada dirinya, egois karena dia tidak memperdulikan kejadian yang ada disekitarnya.
Yang simpati               : Peduli dengan nasib orang lain yang membutuhkan pertolongan, tegas untuk memecahkan permasalahan dalam ruang lingkupnya.
Yang iri                       : Syirik terhadap karena merasa dirinya tidak dapat mencapai semua keinginan tersebut.
Pemilik balsem            : Terlalu percaya terhadap hal-hal yang berbau mistik, kikir pada semua orang karena dia merasa dirinya mampu melakukan segala hal.
Pemimpin                    : Tegas dalam memutuskan atau menyelesaikan suatu permasalahan yang menyangkut kehidupan kelompoknya, bertanggung jawab dalam menyelesaiakan masalah yang dihadapi dalam kelompoknya, dalam sikapnya yang disiplin dia juga mudah tergoda dengan yang berbau materi.
Perintis jalan                : Bertanggung jawab atas semua tugasnya, bijaksana untuk memberikan keputusan, tegas dalam memutuskan permasalahan yamg terjadi, semangat dalam melakukan tugasnya, penakut, sombong atas perilaku yang dilakukan terhadap kelompoknya.
Yang marah                 : Mudah terpancing emosinya, pintar memutar balikkan fakta, tidak mau disalahkan.
Yang lain                     : Perhatian terhadap orang lain atau peduli, bertanggung jawab.
            Yang satu                    :  Bertanggung jawab, peduli terhadap orang lain.
Salah Satu                   : Merasa rendah diri karena dirinya merasa paling bodoh dibanding teman-temannya, mudah mengeluh terhadap suatu pertmasalahan, tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya
Yang berani                 : Pemberani dalam mengatasi permsalahan walaupun bukan dia yang melakukannya.           
Ø  Amanat
Amanat yaitu suatu pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, amanat yang dapat diambil dari naskah drama Aduh karya Putu Wijaya.Kita tidak boleh ragu-ragu jika ingin menolong orang dan jangan sampai terpaku oleh pengalaman masa lalu karena tidak semua orang penipu atau penjahat.Jika kita ingin menolong orang lain hendaknya dengan hati yang ikhlas dan jangan berfikiran negatif terhadap orang lain kecuali orang itu sangat mencurigakan. Naskah drama Aduh juga mengajarkan kita untuk tidak membesar-besarkan suatu masalah sampai tidak memperdulikan orang yang butuh pertolongan.




KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keadaan psikologis seseorang dapat mempengaruhi tingkah laku mereka. Sebuah pengalaman mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat sehingga mereka menjadi was – was dan hati – hati dalam mengambil keputusan.
Unsur yang membangun teks drama ini sangat komplek dan menarik yaitu dari segi penokohan pengarang mencoba menggambarkan tokoh dengan karakteristiknya, dari segi tema dan amanat, juga cukup menarik karena mampu memberikan nilai dan gambaran tersendiri bagi pembaca dan banyak hikmah yang dapat diambil.











DAFTAR PUSTAKA

Luxemburg, jan van, dkk, 1992, pengantar ilmu sastra. Jakarta : PT Gramedia
Wellek, Reno austa warre, 199 Teori Kesusastraan. Jakarta Gramedia
Lukman : 1995. Analisis Tokoh dan Penokohan dalam nove. Novel.Surabaya.














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar