Rabu, 19 Januari 2011

PERSPEKTIF KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA DALAM NASKAH DRAMA PERAHU RETAK


PENDAHULUAN

                  Dalam analisis yang kami lakukan kami mencoba mengangkat semua konteks yang ada dalam analisis struktural, abyek kajian kami yaitu kami mencoba mengkaji kehidupan masyarakat dalam naskah drama perahu retak. Didasarkan atas pengalaman hemaneutik pembacaan kami, kami  menangkap unsur-unsur yang dirasa lebih dominan dan menarik untuk dikaji. Problematik-problematik yang dihadapi masyarakat dan bagaimana masyarakat menghadapi segala gejolak sosial budaya yang ada. Dimana nantinya akan menguak tentang semua hal yang diangkat dalam cerita yang ada di dalam kehidupan saat ini atau sebelumnya. Saat cerita itu bermula dari sebuah pertentangan, pertentangan kerajaan, agama, dan juga budaya. Maka banyak sekali hikmah dan pesan – pesan penulis yang disampaikan kepada pembaca bagaimana menghadapi konflik dan bagaimana beradaptasi dengan sesuatu yang bertentangan dengan budaya asli.
                  Kehidupan bermasyarakat takkan pernah lepas dari kehidupan manusia, karna kita sebagai manusia dikodradkan sebagai makhluk sosial dimana setiap manusia saling berhubungan satu sama lain. Perspektif kehidupan masyarakat jawa dalam naskah drama perahu retak lebih mengarah pada bagaimana masyarakat jawa menghadapai suatu peradaban baru, mengahadapi masuknya budaya islam yang bertentangan dengan kepercayaan yang mereka percayai dan telah mendarah daging menjadi suatu hegemoni yang memiliki kekuatan. 
Pada naskah ini tergambarkan kehidupan masyarakat jawa yang memeluk agama Hindu Budha di  bawah kekuasaan kerajaan Mataram. Dimana setiap perilaku mereka harus berdasarkan ajaran mataram. Saat itulah datanglah para santri-santri yang menyebarkan agama islam. Disini jelas terlihat pertentangan idiologi antara mataram dean islam. Ajaran islam legitimasi spiritual itu disosokkan pada tokoh Wali Songo. Dan sesudahnya (pada saat kerajaan Mataram) legitimasi spiritual itu disosokkan pada tokoh Nyi Roro Kidul. Para penganut islam menyebut kepercayaan masyarakat islam bid’ah. Perbedaan-perbedaan idiologi itu lah yang memicu konflik antara masyarakat jawa mataram dan para pemeluk ajaran islam. Dan bagaimana mereka mengatasi konflik – konflik yang ada dengan tanpa kekerasan.

TINJUAN PUSTAKA
SASTRA DAN MASYARAKAT (SOSIAL)

            Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati oleh masyarakat, sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat oleh status sosial tertentu, karya yang diciptakan oleh sastrawan merupakan refleksi dari kehidupan sastrawan dalam masyarakat, sastra menampilkan gambaran-gambaran kehidupan, dan gambaran kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial, dimana seorang sastrawan mengapresiasikan dan mencurahkan pandangan - pandangan kehidupan masyarakat kepada karya sastra.

            Satra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial.satra yang di rulis pada  waktu tertentu dapat berkaitan langsung dengan norma – norma dan adat istiadat serta keadaan sosial pada jaman itu. Begitu juga dalam naskah drama perahu retak karya MH Ainun Najib yang didalamnya tergambarkant bagaimana kedaan sosial ,budaya, dan  norma – norma masyarakat pada waktu itu.

Naskah “Perahu Retak” karya Emha Ainun Nadjib merupakan salah satu karya sastra dengan bentuk teks atau naskah drama, tetapi teks drama tersebut akan lebih menarik untuk dapat disampaikan dimasyarakat luar dengan memberikan bentuk penyajian melewati teatrikal. Dari cara penyampaian seperti itu informasi yang disampaikan akan lebih cepat untuk dianalisis ataupun diterima oleh penikmat seni itu sendiri.









Analisis Struktur Naskah Drama Perahu Retak  
·         Alur
Alur yang digunakan dalam Naskah Perahu Retak yaitu menggunakan alur maju dan menggantung. Karena dalam naskah Perahu Retak  ini peristiwa-peristiwa yang ada disajikan secara berurutan dan alur  konflik – konflik yang ada dalam  cerita yang ditampilkan tidak menampilkan penyelesaian final.
Dan penyampaian ceritanyapun sangat sederhana namun sangat menarikminat pembaca karna didalamnya terdapat makna – makna yang mengajak pembaca untuk merenungkan dan memahami naskah tersebut. Sehingga pembaca tidak sekedar membaca saja, namun juga mencari makna dari cerita ini. Seorang filsuf Yunani di zaman purba, yang bernama Aristoteles pernah mengatakan, bahwasannya sebuah jalan cerit yang baik adalah yang mampu membuat orang terpesona dan kagum hanya dengan membacanya saja, tanpa dimainkan. Namun apabila naskah ini disandiwarakan, maka akan tercipta pertunjukan yang bagus jalan ceritanya karena isi dari cerita yang baik. Tekanan tempo dalam cerita ini juga banyak kita temui. Hasilnya serupa dengan tekanan dinamik. Sehingga kata yang diberi tekanan, menjadi kata yang lebih penting dari kata lainnya. Sehingga tanda baca yang menjadi symbol penekanan dalam naskah drama ini sangat berguna untuk memperjelas isi pikiran.
            Alur mengagntung pada naskah drama perahu retak ini bila dihubungkan dengan keadaan sosial masyarakat pada waktu itu yaitu dimana setiap perselisihan antara pemerintah dan masyarakat tidak menemukan titik terangnya, masalah itu akan hilang dengan sendirinya tanpa ada titik temu.









·        Penokohan
Kalong
seorang murid yang punya semangat tinggi, gagah perkasa, punya pendirian pendirian teguh, tidak percaya diri dan mudah emosi.

Jambuwangi          
         manja, Baik hati, pemberani, mempunya semangat dan tekat yang sungguh-sungguh,  cerdas, tegas, pemberani.

Jangkung
         Guru Pengembara, Penasehat, berwibawa, tegas,keras, dan sangat serius.

Kiai Tegalsari
Pimpinan Pesantren, penasehat, berwibawa, serius dalam menghadapi masalah

Warok Gagang Subendo
 Warok yang membela kebenaran, humoris, suka bercanda,pemberani dan suka membantu.

Warok Wongso Jolego
Warok yang membela kebenaran, humoris, suka bercanda,pemberani dan suka membantu.

Tumenggung Karang Gumantung
         penguasa yang licik, pandai menyembunyikan masalah, namun ia berperilaku halus dan sopan santun.

Tumenggung Cekal Bhirowo
Berperilaku sopan santun, halus, penguasa yang licik, pandai menyembunyikan masalah.

Ki Mondoroko       
Penasehat Karton Mataram, yang baik hati,disegani banyak orang, cinta perdamaian.

Nyi Demang Sendangsih 
Sabar, lebih berperan sebagai penengah namun kadang – kadang juga plinpan

Carik Sukadal, Pamong Trembesi
Pamong Trembesi yang cin perdamaiam selalu  menyalesaikan masalah dengan musyawarah terlebih dahulu.

 Ki Jogoboyo Marsiung, Pamong Trembesi
Orangnya jahat, licik, Selalu berprasangka buruk terhadap orang lain, tempramental, pemarah, sombong, selalu meremehkan orang lain dan otoriter

Sukijing dan Sujiman
Sabar, tenang, lebih sebagai penangah dalam masalah yang ditimbulkan oleh orang-orang.

Tiwul dan Wuluh
Para  abdi yang patuh terhadap perintah majikan nya dan selalu membela tuannnya walaupun tuannya tersebut bersalah

Para Santri
penyabar dan menerima segala bentuk cobaan dengan ikhlas dan menjunjung tinggi ajaran islam.
           




Berdasarkan  jenis Penokohannya
1.      Protagonis
            Yang termasuk dalam tokoh protagonis dalam naskah drama perahu retak yaituterdiri dari lakon kalong, jambuwangi, dan 2 warok (gagang subendo dan wongso jolego). Tokoh –tokoh tersebut dalam naskah drama perahu retak  mereka memang berperan menjadi orang baik, selalu membantu dengan sesama, dan juga mereka selalu muncul dalam setiap babak dalam naskah drama tersebut.
2.      Antagonis
      Yang termasuk dalam tokoh terdiri dari lakon tumenggung karang gumantung, tumenggung cekal bhirowo dan ki jogoboyo marsiung. Mereka termasuk dalam peran Antagonis karena mereka berperan menjadi orang yang jahat dan kejam terutama dengan kedua tumenggung itu, di dalam naskah ini kedua tumenggung itu memang petinggi kerajaan mataram tapi mereka menjalankan pemerintahan ini dengan sangat tidak manusiawi, mereka selalu memeras rakyat kecil dan menindas mereka bila melawan, dan yang selalu mereka suruh untuk menjalankan tugas itu adalah ki jogoboyo marsiung, dia juga sama kejamnya dengan kedua tumenggung itu, dia beserta anak buahnya selalu memeras dan menindas rakyat kecil, mereka juga selalu mencegah para santridan kiai tegalsari untuk tidak menyebarkan ajaran yang mereka anggap itu tidak baik dan tidak sesuai dengan ajran yang dianut oleh orang mataram dari dulu, marsiung dan anak buahnya pun terlibat pertarungan hebat dengan para santri kiai tegalsari itu dikarenakan dia dan anak buahnya telah membunuh salah satu santri kiai tegalsari, tapi pada akhirnya mereka kalah dan menyerah.

3.   Tritagonis
      Terdiri dari lakon Kiai Tegalsari dan Syech Jangkung. Mereka berdua kami masukkan kedalam tokoh tritagonis karena dalam naskah tersebut peran mereka memang cocok dan sesuai dengan tokoh tersebut, mereka menjadi penengah diantara orang-orang yang sedang melakukan adu kekuatan masing-masing.



4.      Peran pembantu
Di dalam naskah lakon ini terdiri dari nyai sendangsih, ki mondoroko dan carik sukadal yang berperan sebagai pembantu karena mereka sjarang sekali muncul.
                  Dilihat dari unsur penokohan konteks sosial yang ada dapat dikaitkan dari sifat – sifat individu yang sangat beragam, yang menuntut untuk saling memehami karakteristik antara manusia satu dengan yang lainnya. Segala macam konflik yang terjadi dapat diselesaikan apabila antara individu satu dengan individu lain saling memahami karteristi – karakteristik yang dimilikinya.


·         LATAR
               Latar yang dipakai dalam nasakh perahu retak yaitu suatu masa awal agama islam masuk di tanah jawa.
Suasana masyarakat jawa yang mengedepankan budaya jawa tergambar dalam kehidupan masyarakat dalam naskah perahu retak. Gambaran pesantren – pesantren pesisiran yang mengadakan dakwah – dakwah agama islam kepada penduduk jawa.



·         DIALOG
Dialog dalam naskah drama perahu retak ini menampilkan makna yang dalam hal ini dapat dilihat darim penggunaan dialog – dialog berat. dimana banyak sekali menampilkan makna yang sangat dalam. Dalam ditampilkan warna-warni kehidupan masyrakat ditengan konflik-konflik yang bergejolak, menggambarkan bagaimana warna dari setiap sisi kehidupan sosial manusia pada saat itu.


Dialog dalam sebuah lakon tradisi “Perahu Retak” adanya sebuah informasi atau pemberitahuan tentang perselisihan antara penganut agama islam dengan kerajaan  Mataram, seperti yang dipaparkan dalam prolog naskah drama tersebut yang menyatakan bahwa :
Sesudah keberlangsungan kesultanan Demak dan Kesultanan Pajang, berdirinya Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati dan Ki Mondoroko Juru Martani penasehatnya, sesungguhnya merupakan transformasi politik dari pola kepemimipinan pesisiran yang berwatak lebih terbuka, egaliter dan demokratis, menuju atau menjadi kekuasaan pedalaman yang relatif lebih tertutup ......
            adanya suatu nasehat dalam setiap dialog-dialog yang digambarkan dalam naskah perahu retak. Namun ada juga dialog-dialog yang berkesan kasar dan tidak sopan, diantaranya yaitu  dialognya Jangkung dan kalong yang menyebutkan kata “Bodoh”.
                       

·        Tema  
            Dalam naskah perahu retak ini tema yang diambil yaitu  mengenai perselisihan antara Jawa dan Islam yang sedang berkembang-kembangnya pada saat itu.perselisihan berawal dari perbedaan pandangan, kepercayaan dan ideologi yang dianut islam dan yang dipercayai masyarakat jawa yang pada saat itu memeluk agama hindu budha di bawah kekuasaan kerajaan mataram.  Pertikaian tersebut berawal dari para tokoh masyarakat yang tidak percaya sepenuhnya dengan Islam. Mereka menganggap bahwa Islam adalah agama yang baru dalam kehidupan orang Jawa, yang sebelumnya orang-orang Jawa beragama seperti halnya para orang-orang di kerajaan Mataram.
          Hak-hak kemanusiaan yang selalu terpenuhi akan membuat seluruh masyarakat merasa adil. Seharusnya hak-hak kemanusiaan tak hanya diberikan pada masyarakat kalangan atas saja, namun harus diberikan juga pada masyarakat kecil hingga tidak muncul kesenjangan sosial. Kita diajarkan untuk selalu menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah tanpa ada perkelahiaan badan meski sesulit apapun masalah yang kita hadapi kita harus berusaha sedingin mungkin tanpa menyulut dendam. Semua orang yang mempunyai akal sehat harusnya tidak boleh memelihara dendam karena pasti tidak akan menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi.
carut marut ini di amasih menyimpan harapan agar pemerintah mampu mengubah wajah muramnya itu.


·        Amanat

Amanat yang ingin disampaikan  oleh penulis dalam naskah perahu retak yaitu bahwa kita sebagai manusia yang memilik kodrat sebagai makhluk sosil yang saling membutuhkan natara manusia satu dan manusi lain dan saling megisi antra individu satu dengan individu lain  tidak pantas saling bermusuhan apalagi sampai saling membunuh. Semua permasalahan dapat diselesaikan apabila kita menyelesaikannya dengan kepala dingin dan mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat bersama dan memperoleh titik terang dari segala permasalahan yang ada.

    











ANALISIS  INTRISIK  DRAMA

     PENGALAMAN PEMBACAAN
Setelah melewati tahapan pembacaan yang cukup mendalam  pada naskah drama Perahu Retak kami menemukan konteks sosial masyarakat pada masa itu yang kiranya menarik untuk dibahas.kehidupan masyarakat jawa yang humanis yang mampu beradaptasi dengan munculnya kebudayaan - kebudayaan baru yang dinilai bertentangan dengan kebudayaan dan kepercayaan asli mereka. Selain itu watak patuh dan tunduk terhadap kekuasaan sangat erat dengan kehidupan mereka. Mereka  harus tunduk terhadap kekuasaan mataram yang sedang berkuasa saat itu. Dengan karakter  nrimo masyarakat patuh dan tunduk terhadap kekuasaan dan segala kebijakan – kebijakan mataram. Hingga kedatangan islam ke Jawa yang membawa kebudayaan – kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Sejak itu mulailah konflik  demi konflik muncul. Masyarakat mulai menentang kebijakan atas kekuasaan Mataram. Namun apa yang terjadi yang menentang malah menemui ajal,yang memilikin pendapat dibungkam. Hal ini sama dengan konteks pemerintahan  negara indonesia pada saat orde baru dimana pemerintahan berkuasa secara absolut dan mengharuskan semua rakyat tunduk dan patuh terhadap kebijkan – kebujakan yang mereka buat diatas kepentingan – kepentingan pribadi mereka.

            Dalam hal ini yang menarik yaitu karakteristik masyarakat jawa dalam mengahadapi segala konflik – konflik yang mereka hadapi. Bagaimana mereka tunduk dalam kekuasaan, mereka terkekang dengan pemilihan dengan pengarahan yang tak lazim dalam pemerintahan yang bergaya Demokrasi. Mereka seperti diarahkan dalam memilih salah satu partai absolut yang memiliki calon yang sama absolutnya seperti partainya. Sepertinya paradigma Mataram tidak jauh beda dengan rezim Orba yang sama-sama meperseterukan hal yang seharusnya bisa kontak komunikasi yang baik antara pemerintah sebagai wakil rakyat dengan masyarakat sebagai pemberi mandat pada mereka. Namun yang terjadi pemerintah menyelewengkan semua itu, asyik dalam kanca politik yang yang arahnya menuju pada kepentingan kelompok yang menang tanpa memikirkan apa tujuan mereka dipilih. Ini perseteruan yang hampir tidak mendapat titik temu karna semua didalangi dengan otak-otak dan kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan pribadi kelompok mereka. Mereka mampu menghadapi dengan model karekteristik kalem dan tidak tergesa – gesa.mereka lebih mencintai perdamaian dan menjunjung tinggi nilai perdamaian.

                 Dalam teks drama ini erat sekali hubungannya dengan realitas yang ada pada masyarakat indonesia pada jaman orde baru. Mereka harus menerima segala kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pada saat itu, segala aspirasi mereka dibungkam, namun mereka memilih untuk diam meskipun hak – hak  mereka tertindas. Mereka memilih diam demi sebuah perdamaian. Mereka lebih bersikap nrimo dengan segala kebijakan yang ada.


INTERPRESTASI & EVALUASI

     Masuknya islam ke Jawa membawa dampak tersendiri bagi  perkembangan masyarakat jawa, masyarkat jawa yang terbelenggu oleh ideologi fanatisnya di bawah kekuasaan kerajaan mataram mulai berfikir. Beberapa masyarakat pada waktu itu menganggap islam sebagai cikal bakal runtuhnya budaya, ideologi, dan tradisi jawa yang  pada saat itu masyarakat mayoritas memeluk agama hindu budha.

Beberapa orang bersikap ekstrimis ketika para santri – santri sedang berdakwah menyebarkan ajaran islam di tengah – tengah masyarakat jawa. Dari sini muncullah konflik – konflik antar etnis. Masyarakat mataram yang tidak sepaham dengan ajaran – ajaran islam dan malah bisa di bilang sangat bertentangan dengan apa yang selama ini mereka yakini, mulai memperselisihkan  antara etnis jawa mataram dan etnis islam
Para masyarakat mulai mengusik keberadaan para penganut islam di jawa, mulai adanya gejolak – gejolak sosial yang dirasa mengganggu. Masyarakat jawa melkuakan itu semua tak lain karena doktrim – doktrim dari penguasa – penguasa mereka. Kerajaan mataram takut kalua islam  smapai merebut kekuasaannya.
Perselisihan semakin tajam, konflik – konflik antar etnis kian meraja lela  di benak masyarakat jawa. Sampai sampai mereka tidakmenyadari bahwa   mereka telah di doktrim oleh kekuasaan mataram, mereka harus melakukan segala   peraturan – peraturan yang dibuat oleh mataram dan  mereka harus mengikuti cara-cara mataram.
            Hal ini jika dihubungkan dengan keadaan masyarakat pada saat penulisan tek drama ini yaitu pada saat pemerintahan orde baru dimana masyarakat indonesia didoltrim oleh idiologi kuningisasi dan mereka harus tunduk pada satu pemerintahan yang sedang berkuasa pada saat itu. Masyarakat harus pro terhadap salah satu partai politik yang menguasai dunia pilitik saat itu. Dan mereka harus rela membungkam aspirasi – aspirasinya karna siapa yang bicara maka bahaya kan mengecamnya. Dalam hal ini masyarakat indonesia lebih memilih untuk diam dan tetap tunduk pada peraturan yang ada. Mungkin yang tertera dalam benak mereka lebih baik diam dari pada menanggung resiko, seperti yang ada dalam naskah drama perahu retak.
Bagaimana cara masyarakat menghadapi konflik – konflik yang bertubi-tubi merupakan suatu bentuk periau masyarakat yang istimewa, dimana  dari sikapnya yang kalrm dan nerimo yang menjadi suatu identitas tersendiri bagi masyarakat jawa.
Cara masyarakat jawa menghadapi konflik-konflik sosial  dan bagai mana cara mereka mengahapi perubahan – perubahan kebudayaan yang ada. Memberikan suatu identitas tersendiri bagi masyarakat jawa yang dapat memberikan karakteristik tersendiri sehingga dapat membedakan masyarakan suku jawa dengan masyarakat dari etnis lain di Indonesia.
Karakteristik kalem yang mereka miliki dan lebih memilih perdamaian dari pada suatu kekerasan. Bila menghadapi suatu masalah mereka lebih memilih untuk menyelesaikannya dengan musyawarah untuk mencapai mufakat bersama.











PENUTUP

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahawa masyarakat jawa merupakan masyarakat yang kalem, tepo seliro, nrimo, dan toleran. Dengan sifat-sifatnya mitulah masyarakat jawa dapat hidup di tengah-tengah akulturasi budaya yang ada di  jawa. Meskipu pada  mulanya banyak sekali ketegangan-ketegangan budaya dan masalah-masalah yang timbul akibat dari perbedaan kepercayaan namun mereka bisa menyelesaikannya dengan tanpa kekerasan. Sifat-sifat itulah yang membedakan masyarakat jawa dengan suku-suku lain diluar jawa.
             
           



















DAFTAR PUSTAKA


Luxemburg, jan van, dkk.1992.PENGANTAR ILMU SASTRA, Jakarta : PT. Gramedia pustaka utama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar