Rabu, 19 Januari 2011

Kerajaan Blambangan




Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangiatau yang lebih dikenal di Alas Purwo. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo.adalah simbolik Minak(Raja)Jinggo(merah=adalah simbolik kemarahan)dikarenakan merasa diingkari oleh Majapahit yang hanya diberikan tanah perdikan didaerah Ujung Timur Pulau Jawa, bukan sebagai Raja Majapahit. Dimana Prabu Minak Jinggo/Bhre Wirabumi mengadakan Protes yang dikenal dengan "klilip Mojopahit" yang akhirnya dianggap melakukan kudeta pada Majapahit. Majapahit kemudian mengutus Damarwulan, Damar=lampu,Wulan=Bulan(lampu yang menyala bak bulan atau bara api)adalah simbolik dari Mahapatih Majapahit. Damarwulan akhirnya bisa mengalahkan Minakjinggo dengan mengirim candu ke Blambangan. Jadi Bisa diartikan bahwa kekalahan Minakjinggo adalah dengan Damarwulan, dengan artian apabila sudah ada damarwulan(bara api yang digunakan untuk membakar pipa untuk menghisap candu) maka tidak berdayalah Minakjinggo.
Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa.
Kemudian Muncullah Kerajaan Blambangan (Kalau boleh disebut "Blambangan II), dimana kerajaan Blambangan II ini sudah bernafaskan Islam dengan Pusat Pemerintahan di Blambangan,Muncar. Yang kemudian melahirkan Seorang Ulama Dengan Nama Sunan Giri
Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah taklukan Bali. Kerajaan Mengwi pernah menguasai wilayah ini. Usaha penaklukan Kesultanan Mataram terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah Blambangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar