Rabu, 19 Januari 2011

TANGGUNG JAWAB MANUSIA TERHADAP ALAM (GLOBAL WARMING dan BANJIR JAKARTA)



Di dalam kitab kejadian pasal 2, Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk menaklukan ciptaan lain. Selain itu, manusia juga diperintahkan oleh Allah untuk menjaga dan memelihara apa yang telah Allah ciptakan. Namun, apakah itu terlaksana saat ini ?
Pada saat-saat ini, alam sudah tak lagi seperti sedia kala. Alam telah menunjukkan perubahan yang sangat drastis. Dari beberapa kasus yang terjadi pada alam saat ini, 2 kasus akan saya bahas dalam tugas kali ini.
            * 2 kasus tersebut adalah :
            1. Global Warming
            2. Bencana Banjir yang melanda Jakarta pada tahun 2007
*      GLOBAL WARMING
GLOBAL WARMING adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
         Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir.
         Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, " Sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"melalui efek rumah kaca.
Penyebab GLOBAL WARMING:
         Penyebab utama yang menyebabkan adanya GLOBAL WARMING adalah Efek Rumah Kaca.
         Akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca (uap air, karbon dioksida, dan metana) sebagian panas dari matahari terperangkap di atmosfer bumi.
         Gas-gas rumah kaca ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
         Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Dan jika gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, maka hal ini akan mengakibatkan pemanasan global.
Dampak GLOBAL WARMING:
         1. Iklim mulai tidak stabil
            Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Dan daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan.
2. Gangguan Ekologis
         Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia.
         Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan.
          Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
3. Dampak social
         Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi
         Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adanya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit.
4. Peningkatan permukaan laut
         Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut.
         Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.

*      BENCANA BANJIR DI JAKARTA TAHUN 2007
         Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari.
         Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
         Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit
Penyebab banjir
         Di Jakarta, membuat selokan yang baik itu bukan merupakan budaya atau patokan tata aturan pembuatan bangunan.Rumah-rumah pada daerah pemukiman padat penduduk non-perumahan biasanya memiliki saluran air seadanya. Ukuran satu kilan tangan dipakai untuk menangani limbah rumah tangga beberapa puluh rumah.
         Belum lagi warga yang membuat sambungan ’buk’ rumah dengan jalan tanpa memperhatikan hubungan antar selokan, sehingga seringkali tampak ada selokan menggenang untuk tempat sampah dan selokan yang kering kerontang yang dijadikan tempat bakar sampah dalam satu rute.
         Gedung-gedung bertingkat di Jakarta pun sering tidak memperdulikan kualitas gorong-gorong di depan gedung tersebut, misalnya genangan air di daerah Balai Kartini yang selalu muncul disaat hujan.
          Yang paling parah adalah rusaknya daerah aliran sungai (DAS). Jakarta memiliki delapan DAS, yakni Das Cisadane, Angke, Ciliwung, Rukut, Sunter, Cilincing, Cikarang, dan Bekasi.
         selokan atau sungai pun menjadi media untuk tempat buang sampah atau bakar sampah, bahkan itu menjadi semacam kebiasaan
Dampak dan Kerugian
         Seluruh aktivitas di kawasan yang tergenang lumpuh. Jaringan telepon dan internet terganggu. Listrik di sejumlah kawasan yang terendam juga padam.
         Puluhan ribu warga di Jakarta dan daerah sekitarnya terpaksa mengungsi di posko-posko terdekat. Sebagian lainnya hingga Jumat malam masih terjebak di dalam rumah yang sekelilingnya digenangi air hingga 2-3 meter. Mereka tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri karena perahu tim penolong tidak kunjung datang.
         Di dalam kota, kemacetan terjadi di banyak lokasi, termasuk di Jalan Tol Dalam Kota. Genangan-genangan air di jalan hingga semeter lebih juga menyebabkan sejumlah akses dari daerah sekitar pun terganggu.
         Arus banjir menggerus jalan-jalan di Jakarta dan menyebabkan berbagai kerusakan yang memperparah kemacetan. Diperkirakan sebanyak 82.150 meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai berat.
         Banjir juga membuat sebagian jalur kereta api lumpuh. Lintasan kereta api yang menuju Stasiun Tanah Abang tidak berfungsi karena jalur rel di sekitar stasiun itu digenangi air luapan Sungai Ciliwung sekitar 50 sentimeter.
         Sekitar 1.500 rumah di Jakarta Timur hanyut dan rusak akibat banjir. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Cakung.
Dari 2 kasus tersebut, kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada alam saat ini adalah tanggung jawab manusia. Manusia seharusnya menjaga dan memelihara alam ini dan bukannya mengeksploitasi untuk kepentingan dirinya semata. Seperti yang dikatakan pada kitab kejadian pasal 1, Allah menciptakan segala sesuatunya dengan amat baik. Karena itu, hendaknya kita menjaga apa yang telah Allah ciptakan dengan baik. Dengan memelihara alam, sama halnya kita telah menghargai apa yang telah Allah ciptakan dan menghormati-Nya sebagai pencipta alam semesta ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar