Rabu, 19 Januari 2011

KARAKTERISTIK DRAMA



Pengantar
          Sebuah drama pada umumnya menyangkut dua aspek, yakni aspek cerita sebagai bagian dari sastra, dan yang kedua adalah aspek pementasan yang berhubungan erat dengan seni lakon atau teater.
          Kedua aspek di atas walaupun sepintas lalu seperti dapat terpisah, yang satu berupa naskah dan yang lain berupa pementasan, namun pada dasarnya merupakan suatu totalitas. Artinya, sewaktu naskah tersebut disusun telah diperhitungkan segi-segi pementasannya dan sewaktu pementasan tidak dapat menghindari dari garis umum naskah.
Kekhususan Drama Dibandingkan Dengan Genre Sastra Lain
          Drama mempunyai tiga dimensi: sastra, gerakan, dan ujaran. Oleh karena itu naskah drama tidak disusun khusus untuk dibaca sebagaimana prosa atau puisi, tetapi sejak awal dalam penciptaan naskah drama telah dipertimbangkan kemungkinan naskah drama dapat diterjemahkan ke dalam penglihatan, suara, dan gerak laku.
          Drama memberi pengaruh emosional yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Hal ini disebabkan, drama dengan segala peristiwa yang ditampilkan langsung dapat dilihat oleh penonton.
          Bagi sebagian besar orang, menonton drama lebih menyenangkan dan menghasilkan pengalaman yang lebih lama diingat dibandingkan dengan membaca novel. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi dan intensitas emosi yang tercipta karena melihat dan mendengar langsung peristiwa-peristiwa itu terjadi.
          Drama disusun dengan suatu keterbatasan. Ia dibatasi oleh dua konvensi, yaitu: intensitas dan konsentrasi. Kedua konvensi ini ada karena mempertimbangkan kemungkinan daya atau kemampuan mengikuti pementasan publik drama. Drama telah mengalami “pemerasan” bagian-bagian penting sedemikian rupa sehingga hanya hal-hal yang memberi efek emosional “Luar Biasa” yang ditampilkan.
          Keterbatasan pemain-pemain secara fisik. Salah satu keterbatasan drama secara fisik kalau dibandingkan dengan karya sastra yang lain adalah: drama hanya menyangkut masalah manusia dan kemanusiaan semata.
          Drama memiliki keterbatasan pemanfaatan objek material.
          Drama memiliki keterbatasan bukan saja dari segi artistik, tetapi juga dari segi kepantasan.
          Drama dibatasi oleh leterbatasan intelegensia rata-rata penonton.
          Drama memiliki episode dan jumlah alur yang terbatas.

Prinsip-Prinsip Aristotelian
                Prinsip-prinsip umum pementasan drama yang terkenal dengan nama prinsip Aristotelian yang dikembangkan dalam buku Prefics adalah sebagai berikut:
          Adanya kesatuan perilaku (unity of action). Di dalam pementasan mesti ada mata rantai yang jelas mengenai sebab akibat antara kejadian-kejadian yang dipentaskan.
          Kesatuan tempat dan waktu (unities of place and time). Kesatuan tempat mesti dapat dilihat dengan jelas karena terkait dengan kesatuan waktu. Kesatuan waktu berarti bahwa tiruan perilaku yang dipentaskan tidak dapat melebihi waktu sebagaimana dalam kenyataannya.
Jenis-Jenis Drama (Konvensional)
          Tragedi
          Komedi
          Melodrama
          Farce
Tragedi
                Tragedi adalah sejenis drama yang berakhir dengan kesedihan, biasanya setidak-tidaknya terjadi suatu kematian. Tragedi berkaitan dengan tindakan dan pemikiran yang serius dan dengan persona manusia yang menarik perhatian. Tidak ada peristiwa kebetulan: peristiwa yang ditampilkan adalah peristiwa yang jujur dan murni.
          suatu lakon tragis haruslah berhubungan erat atau menggarap suatu subjek yang serius.
          sang pahlawan atau pelaku utama dalam tragedi haruslah merupakan orang penting (herois)
          segala insiden harus wajar
          rasa kasihan, sedih, atau takut, meupakan emosi-emosi utama.
Komedi
          Fungsi utama komedi adalah untuk menyenangkan hati atau memancing suasana gembira.
          komedi mungkin memerankan suatu subjek yang serius dan mungkin pula ringan, tetapi  selamanya memperlakukan subjeknya itu dalam suatu tendensi yang ringan atau cerah.
          komedi memerankan kejadian-kejadian yang mungkin dan seakan-akan terjadi
          segala yang terjadi muncul dari tokoh dan bukan dari situasi
          kelucuan yang dihasilkan merupakan sejenis humor yang serius


Melodrama
          memerankan subjek yang serius, tetapi para tokohnya tidak seotentik yang terdapat pada tragedi
          cenderung ke arah sentimentalitas
          tokoh utama cenderung menang
          unsur-unsur perubahan ada masuk ke dalam melodrama
Farce
          lebih dititikberatkan pada alur daripada penokohan
          kejadian-kejadian dan tokoh-tokohnya mungkin terjadi dan ada, tetapi kecil kemungkinannya.
          menimbulkan kelucuan seenaknya
          bersifat episodik
          segala sesuatu muncul dari situasi, bukan dari tokoh
Nilai Dramatik
          nilai-nilai emosional (disampaikan untuk dirasakan)
          Intelektual (disampaikan untuk dimengerti),
          abstrak (membangkitkan kegembiraan lewat keindahan), dan
          nilai dramatik (hal-hal yang menimbulkan konflik)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar