Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

Apa dan bagaimana Rekayasa Sosial (Social Engineering) itu ?



Anggitan :
Perubahan sosial yang direncanakan dan dilakukan karena munculnya problem-problem sosial sebagai adanya perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dengan das sein (yang nyata). Tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial (collective action to solve social problems). Biasanya ditandai dengan perubahan bentuk dan fungsionalisasi kelompok, lembaga atau tatanan sosial yang penting. 

Dibanding dengan perencanaan sosial (social planning), ia lebih luas atau lebih pragmatis, sebab sebuah rekayasa selalu mengandung perencanaan, tetapi tidak semua perencanaan diimplementasikan hingga terimplementasikan di alam nyata. Begitu pula jika dibandingkan dengan manajemen perubahan (change management), ia memiliki makna lebih pasti, sebab jika obyek dari manajemen dapat ditafsirkan sebagai perubahan dalam arti luas, sedangkan obyek dari rekayasa sosial sudah jelas, yakni perubahan sosial menuju suatu tatanan dan system baru sesuai dengan apa yang dikehendaki sang perekayasa.

Problem sosial :
Kondisi tertentu dalam masyarakat yang dianggap tidak enak atau mengganggu oleh sebagian masyarakat dan dianggap dapat dikurangi atau dihilangkan melalui upaya bersama (kolektif).Masalah sosial merupakan keadaan buruk yang hanya bisa diperbaiki dengan tindakan kolektif (poor condition susceptible to collective action)

Unplanned social change (perubahan sosial yang tidak terencana) :
Perubahan sosial yang terjadi terus menerus tetapi perlahan-lahan tanpa kita rencanakan, biasanya disebabkan oleh perubahan dalam bidang teknologi dan globalisasi.

Planned social change (perubahan sosial yang terencana) :
Sebuah perubahan yang didesain serta ditetapkan strategi dan tujuannya. Dalam hal ini kita akan diajarkan kiat-kiat dan strategi-strategi merubah masyarakat.


Aksi sosial :
Tindakan kolektif yang terus-menerus, terencana dan terorganisir untuk mengurangi atau mengatasi masalah sosial.

Ingat !!! Setiap perubahan sosial dimulai dengan mengarahkan perhatian kepada perubahan individual yang dimulai dari perubahan cara dan pola berpikir kemudian cara dan pola perilaku. Perubahan cara berpikir mutlak dilakukan sebab mustahil ada perubahan ke arah yang benar jika kesalahan berpikir masih menjebak sang perekayasa (social engineer).


Liukan Konsep dan Dimensi Perubahan Sosial :
a. Sebab-Musabab Perubahan Sosial :
Ideas ; pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (world view) dan nilai-nilai (values), seperti yang Max Weber ungkapkan dalam buku The Sociology of Religion dan  The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism bahwa betapa berpengaruhnya ide terhadap suatu masyrakat

Great individuals (tokoh-tokoh besar) ; perubahan sosial terjadi karena munculnya seorang tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati dari para pengikutnya yang setia, kemudian bersama-sama dengan simpatisan itu, sanga pahlawan melancarkan gerakan untuk mengubah masyarakat (great individuals  as historical forces).

Social Movement (gerakan sosial) ; sebuah gerakan sosial yang dipelopori oleh sebuah komunitas atau institusi semacam LSM/NGO, Ormas, OKP dan sebagainya.

Sumber-sumber perubahan juga bisa disebabkan oleh; (1) Kemiskinan (poverty) sebagai problem yang melibatkan banyak orang, (2) Kejahatan (crimes) yang biasanya berjenjang dari blue collar crimes sampai white collar crimes, dan (3) Pertikaian  atau konflik (conflict), konflik sosial bisa bersifat etnis, rasial, sektarian, ideologis, dan sebagainya.
           

b. Strategi-Strategi Perubahan Sosial :
Strategi Normative-Reeducative (normatif-reedukatif);
Normative merupakan kata sifat dari norm yang berarti aturan yang berlaku di masyarakat (norma sosial), sementara reeducation, dimaknai sebagai pendidikan ulang untuk menanamkan dan mengganti paradigma berpikir masyarakat yang lama dengan yang baru. Sifat strategi perubahannya perlahan dan bertahap.         

Cara atau taktik yang digunakan  adalah mendidik, yakni bukan saja mengubah perilaku yang tampak melainkan juga mengubah keyakinan dan nilaki sasaran perubahan.

Persuasive Strategy (strategi persuasif);
Strategi ini dijalankan melalui pembentukan opini dan pandangan masyarakat, biasanya menggunakan media massa dan propaganda.

Cara atau taktik yang digunakan  adalah membujuk, yakni berusaha menimbulkan perubahan perilaku yang dikehendaki para sasaran perubahan dengan mengidentifikasikan objek sosial pada kepercayaan atau nilai agen perubahan. Bahasa merupakan mediuam utamanya.

People’s power (revolusi);
Merupakan bagian dari power strategy (strategi perubahan sosial dengan kekuasaan), revolusi ini merupakan puncak dari semua bentuk perubahan sosial, karena ia menyentuh segenap sudut dan dimensi sosial secara radikal, massal, cepat, dan mengundang gejolak intelektual dan emosional dari semua orang yang terlibat di dalamnya.

Cara atau taktik yang digunakan berbentuk paksaan (memaksa) dengan kekuasaan, yakni upaya menimbulkan kepasrahan behavoral atau kerjasama pada sasaran perubahan melalui penggunaan sanksi yang dikendalikan agen.

Catatan :
Efektifitas teori persuasi sangat bergantung pada media yang dipergunakan. Media itu dibagi dua;

Media pengaruh (media komunikasi yang digunakan pelaku perubahan untuk mencegah sasaran perubahan), dan

Media respon (media yang digunakan oleh sasaran perubahan dalam menggulingkan tanggapan mereka), keduanya dapat menggunakan media massa atau saluran-saluran interpersonal.


c. Unsur-unsur sosial dan aksi sosial;
Cause (sebab); upaya atau tujuan sosial yang dipercayai oleh pelaku perubahan dapat memberikan jawaban pada problem sosial
 
Change agency (pelaku perubahan); organisasi yang misi utamanya memajukan sebab sosial

Change target (sasaran perubahan); individu, kelompok atau lembaga yang ditunjuk sebagai sasaran upaya perubahan

Channel (saluran); media untuk menyampaikan pengaruh dan dari setiap pelaku perubahan ke sasaran perubahan

Change strategy (strategi perubahan); teknik utama untuk mempengaruhi yang diterapkan oleh pelaku perubahan untuk menimbulkan dampak pada sasaran perubahan

 



d. Sasaran Perubahan Sosial ;
Sasaran akhir; berupa korban atau lembaga-lembaga yang merusak.
Sasaran antara; seperti masyarakat/pemerintah, bisnis, atau profesi.

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




[1] Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber dan disampaikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII Cabang Jakarta Pusat

PELANGI BUDAYA


            Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan beragam budaya. Setiap wilayah anggota negara Indonesia memiliki potensi daerah yang berbeda-beda dan beragam. Masing-masing potensi baik seni dan tradisi memiliki keindahan dan nilai tersendiri. Keragaman inilah yang menjadikan Indonesia dikenal dan diperhitungkan di mata dunia dalam bidang pariwisata. Begitu ragamnya dan indahnya budaya Indonesia ini memiliki daya tarik sendiri bagi wisatawan dari berbagai daerah baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Ditambah lagi merujuk pada sejarah negara Indonesia bahwa dahulu kala di Indonesia pernah berdiri banyak sekali kerajaan-kerajaan yang tentunya menyimpan berbagai informasi dan peninggalan-peninggalan bersejarah. Bukti dari ada itu, dari tahun-ke tahun mulai ditemukannya peninggalan sejarah di berbagai tempat seperti di Kalimantan, Sumatra, Bali, Irian Jaya, Pulau Buru, Jawa Tengah, Yogyakarta dan salah satunya adalah Jawa Timur. Karena begitu banyaknya budaya di Indonesia ini membuat Pemerintah Pusat kesulitan untuk mengidentifikasinya satu persatu akhirnya pengelolaan dan identifikasi di serahkan pada pemerintah daerah masing-masing.
Semakin majunya kecanggihan tekhnologi semakin banyak sekali masyarakat berlomba-lomba untuk menyesuaikan gaya hidup mereka dengan berbagai macam kecanggihan tekhnologi. Mereka yang tidak bisa menyesuaikan dengan kemajuan tekhnologi dianggap kuno dan perlahan-lahan tersingkir secara tidak langsung dari komunitas yang dapat menyesuaikan diri tersebut. Keadaan itu memberikan dampak sosial yang cukup signifikan dan menimbulkan kecemburuan sosial. Namun yang lebih ekstrim lagi mempengaruhi sektor kebudayaan. Lambat laun masyarakat mulai meninggalkan dan tidak mau tahu mengenai peninggalan dan warisan para leluhur mereka. Mereka menganggap warisan kebudayaan itu merupakan dari masa lampau yang hanya di kenang saja akhirnya menjadikan budaya-budaya tersebut terbengkalai dan tak terurus. Apalagi dengan adanya Globalisasi Modern ini banyak sekali bermunculan gaya hidup baru yang menawarkan kecanggihan dan kemewahan. Seni tradisional tersaingi oleh tari-tarian modern seperti dance, disco, dan lain-lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Globalisasi adalah “Proses masuknya keruang lingkup dunia” sedangkan seni adalah “keahlian membuat sesuatu yang bernilai tinggi” dan tradisi adalah “adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan di masyarakat”. Jadi seni tradisi adalah wujud dari budaya yang bercita rasa tinggi yang telah menjadi kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyang yang sampai sekarang masih dijalankan di masyarakat.
            Seni tradisional identik dengan ritual atau perayaan yang bersifat magis (menggunakan kekuatan gaib) dan adanya kepercayaan-kepercayaan yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya (mitos). Sedangkan hal itu dianggap kuno bagi masyarakat yang menyebut dirinya sebagai masyarakat modern. Namun hal itu tidak berlaku bagi masyarakat Banyuwangi, salah satu kabupaten yang terletak di timur Pulau Jawa. Bahkan salah satu media cetak edisi 83/VIII terbitan tahun 2006 menyebutkan bahwa Banyuwangi merupakan Surga Budaya di Timur Jawa karena begitu banyak dan beragamnya budaya yang dimiliki oleh Banyuwangi.  Lantas benarkah Banyuwangi benar-benar Surga Budaya?

BERAGAM BUDAYA DI KOTA SANTET
Banyuwangi, kabupaten yang memiliki 189 desa. Posisi Kabupaten Banyuwangi berada di koordinat 7    0  -43` sampai dengan 8   0  46` Lintang Selatan dan 113 0  53` sampai dengan 114     0   38` Bujur Timur. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Situbondo, sebelah timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Jember dan Bondowoso.
Secara geografis wilayah Banyuwangi mempunyai nilai strategis di bidang pertanian, perikanan, perkebunan, kelautan terutama di bidang pariwisata. Selain itu wilayah Banyuwangi berdekatan tepatnya berseberangan dengan Pulau Bali. Karena letaknya yang strategis ini menjadikan Banyuwangi menjadi tempat singgah bagi wisatawan asing yang akan melanjutkan perjalan ke Pulau Bali. Namun selain menjadi tempat singgah ternyata Banyuwangi memiliki daya tarik sendiri bagi wisatawan yang datang. Tak heran karena letaknya yang strategis inilah selain menjadi tempat singgah bagi wisatawan yang datang juga dijadikan tempat untuk tinggal. Secara demografis Banyuwangi didiami oleh beberapa etnis yaitu etnis Using, Jawa, Madura, Bali, Mandar, Arab dan Cina. Diantara etnis-etnis tersebut yang paling menonjol adalah etinis Using, Jawa dan Madura.
Banyak sekali potensi yang dimiliki oleh Banyuwangi di bidang kepariwisataan antara lain: Wisata Alam Taman Nasional (TN) Alas Purwo, Taman Nasional Meru Betiri (Sukamade), Taman Hutan Kawah Ijen, Wana Wisata, Wisata Kebun, Wisata Budaya, Upacara Tradisi, Upacara Agama, Wisata Buatan dan Wisata Alam lainnya. Tidak hanya itu menurut data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, Banyuwangi memiliki 30 kesenian dengan andalannya yaitu tari Gandrung, Barong dan Kendang-Kempul serta memiliki 20 adat tradisi dengan yang terkenal yaitu Seblang dan Kebo-Keboan.
Secara Historiografi, Banyuwangi dikenal sebagai wilayah Blambangan dengan rajanya yang gagah berani dan pantang menyerah bernama Raja Menakjinggo. Blambangan berasal dari kata “Balumbumbung” dan dari kata dasar lumbung yang berarti tempat atau gudang penyimpanan padi. Sampai saat inipun Kabupaten Banyuwangi masih tetap sebagai salah satu lumbung padi nasional di tanah air tidak hanya itu, Banyuwangi juga merupakan tempat penghasil ikan nomor dua di Indonesia.
Banyak orang mengenal Banyuwangi sebagai kota santet dan disalah artikan sebagai upaya untuk mencelakakan orang lain namun sebenarnya yang dimaksudkan sebagai santet di Banyuwangi adalah upaya menarik perhatian lawan jenis dengan menggunakan kekuatan gaib. Namun dewasa ini santet tidak hanya telah disalah artikan secara definisi saja melainkan telah disalah artikan juga secara fungsi dan tujuannya. Berikut cuplikan dari mantra santet yaitu ajian jaran goyang: “.....matek ajiku jaran goyang/sing tak seja tumeka/ Tak goyang batine .....(nama orang yang dituju diikuti nama ibunya)/tontok sejane nuruti marang aku/nurut saka kersani gusti Allah....” itu hanya sedikit dari cuplikan dari bait mantra ajianb jaran goyang. Namun tidak hanya ajian jaran goyang saja yang dimiliki kabupaten yang dipimpin oleh bupati wanita ini namun Banyuwangi dikenal sebagai kota Gandrung dengan tarian Gandrungnya yang menarik. Tarian Gandrung merupakan salah satu kesenian dari sekian banyak kesenian di Banyuwangi, konon ditujukan kepada Dewi Sri yang juga disebut sebagai Dewi Padi untuk ucapan syukur atas kesuburan yang diperoleh setelah becocok tanam. Banyuwangi memang dikenal sebagai daerah agraris. Sebagai bentuk ucapan syukur itulah masyarakat jaman dahulu mempersembahkan dalam bentuk tarian setelah musim panen tiba. Itulah kisah dari tari Gandrung. Gandrung merupakan tarian tradisional pada jaman Kerajaan Blambangan kuno dan kini Gandrung selalu ditampilkan dalam berbagai acara dan biasanya Gandrung ditampilkan sebagai tarian pembuka dalam suatu acara sebagai tarian untuk menyambut tamu atau yang dikenal dengan “Tarian Selamat Datang”.
Selain itu ada pula kesenian barong. Kata barong memiliki beberapa pengertian. Dalam bahasa sansekerta barong memiliki arti beruang, yakni berasal dari kata “B(h)arwang”. Selain itu barong berarti pula akar – akaran yang hidup didekat rumpun bambu, pertunjukan yang barwujud tiruan dari binatang buas. Melihat dari arti kata tersebut di atas, makna terakhir yang mengarah pada makna kesenian barong. Blambangan atau Banyuwangi memiliki beberapa barong, diantaranya adalah: Barong kemiren, Barong Prejeng, Barong Osing atau Blambangan. Adapun bentuk kesenian barong adalah kepala berbentuk raksasa yang besar, dengan mata melotot dan taringnya keluar. Kesenian barong merupakan seni teater tradisional. Ceritanya diambil cerita dari rakyat yang terkenal adalah Barong jakrifah yang mengisahkan perjuangan penduduk desa membuka areal hutan dan digunakan untuk areal pertanian untuk membuka tempat baru tersebut ia harus menghadapi makhluk – makhluk halus yang ada dihutan tersebut. Pementasan kesenian ini biasanya dimalam hari dan selesai di pagi hari. Pesan untuk melestarikan hutan selalu dimunculkan untuk para penonton dalam pertunjukan ini.
            Kendang kempul juga merupakan salah satu kesenian yang ada di Banyuwangi yang berupa seperangkat alat musik yang biasanya dipakai untuk mengiringi kesenian yang berupa tarian-tarian Banyuwangi seperti Tari Gandrung. Kendang kempul merupakan seni musik khas yang dimiliki Banyuwangi.
            Selain itu adat tradisi yang terkenal di wilayah Banyuwangi adalah Seblang dan Kebo-keboan. Seblang dan Kebo-keboan memiliki beberapa kesamaan yaitu suatu upacara atau ritual bersih desa yang diadakan setiap satu tahun sekali. Maksud daripada ritual bersih desa adalah membersihkan desa dari bencana selain itu membersihkan diri terutama hati dari segala pikiran-pikiran dan keinginan-keinginan yang tidak baik. Selain itu membersihkan harta yang telah kita peroleh dengan cara menyisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk dikumpulkan menjadi satu lalu diwujudkan dalam bentuk makanan dan dibagikan kepada saudara-saudara kita di luar desa tersebut.
            Kesenian ritual Seblang banyak mengandung nilai filosofi tentang kehidupan, tentang kesuburan dan akulturasi dari berbagai pola dan prinsip kehidupan berbudaya. Ada dua macam tradisi Seblang yaitu Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan. Seblang Olehsari dimainkan oleh seorang gadis yang belum memasuki tahap pubertas, yang masih polos dan yang masih memiliki garis keturunan dengan penari-penari sebelumnya. Seblang Olehsari dilaksanakan 1 tahun sekali pada hari ke 7 setelah Hari Raya Idhul Fitri dan dimainkan selama 7 hari berturut dan dimainkan dalam keadaan tidak sadar. Sedangkan Seblang Bakungan dimainkan oleh seorang wanita yang telah menopause atau yang sudah tidak mendapatkan siklus menstruasi. Seblang Bakungan biasanya silaksanakan 1 tahun sekali satu minggu setelah Hari Raya Idhul Adha pada malam hari setelah Maghrib. Dari sisi kepenarian Seblang Bakungan dan Seblang Olehsari memiliki keunikan. Yang satu ditarikan oleh perempuan yang belum akil balik dan yang satu ditarikan oleh perempuan yang sudah menopause, ini menunjukkan betapa sungguh kesenian ini terkait dengan kesucian baik manusia yang baru terlahir kedunia maupun yang mulai mendekati Sang Pancipta.
            Kebo-keboan, sebuah upacara adat dari desa Alas Malang banyuwangi sudah mentradisi sejak abad 18. pada tahun 2006 Dinas Pariwisata Jawa Timur menganugerahi Budaya nenek moyang Alas Malang yang nilainya tak terbilang ini sebagai upacara adat terbaik Jawa Timur dengan gelar “The Most Standing Award”. Tradisi Kebo-keboan ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali tepatnya pada bulan Suro (kalender Jawa) selama 3 hari berturut-turut. Awalnya, kebo-keboan ini diadakan untuk memohon turunnya hujan saat kemarau panjang, dengan turunya hujan berarti bercocok tanam segera bisa dilaksanakan. Menurut sesepuh desa setempat, Kebo-keboan pertama kali dikenalkan oleh seorang sesepuh Desa Alas Malang yang bernama Buyut Karti. Kala itu di Dusun Krajan ditimpa suatu bencana berupa kematian. Satu persatu warganya meninggal, Buyut Karti berusaha memecahkan masalah tersebut dan akhirnya memperoleh petunjuk melaksanakan ritual kebo-keboan. Setelah kebo-keboan digelar, musibah itu perlahan-lahan hilang dan wargapun merasa nyaman dan tenang akhirnya sebagai ungkapan syukur terhindar dari bencana dan atas hasil panen yang melimpah maka warga setempat melaksanakan ritual kebo-keboan tersebut setiap tahun.

PELANGI BUDAYA
            Masih banyak lagi seni tradisional yang dimiliki Banyuwangi dan dapat kita saksikan setiap tahunnya. Namun tanggal 18 Desember 2008 kemarin merupakan hari paling bersejarah bagi masyarakat Blambangan ini digelarnya Pelangi Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Banyuwangi yang 237. Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Banyuwangi yang disingkat dengan Harjaba diselenggarakan berbagai kegiatan mulai dari pementasan seni tradisional, pameran lukisan hingga Pekan Olah raga dan Kesenian (Porseni). Digelar pula Lomba Kesenian Barong, Lomba Tari Gandrung, Pemilihan Jebeng Thulik Banyuwangi. Bersamaan dengan Harjaba itu digelar pula Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) yang diikuti oleh 9 Kabupaten di Kawasan Selatan Jawa Timur yaitu Banyuwangi, Malang, Trenggalek, Lumajang, Pacitan, Kediri, Tulungagung, Ponorogo, dan Jember. FKKS sendiri adalah suatu Festival yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur dalam melestarikan budaya Jawa Timur setiap tahunnya dan tahun ini merupakan tahun ke IV bagi FKKS dengan tuan rumah Kabupaten Banyuwangi yang diselenggarakan bertepatan dengan Harjaba ini juga merupakan sebuah kado istimewa di ultah Kabupaten Banyuwangi.
            Puncak dari pada acara Harjaba ini dilaksanakan pada tanggal 18 Desember di depan kantor Sekretariat Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi disepanjang jalan protokol yang dihadiri oleh Ibu Bupati beserta Bapak Wakil Bupati dan para Muspida dimulai pada pukul 13.00 WIB. Pawai Pelangi Budaya ini selain diikuti oleh masyarakat Blambangan sendiri juga diikuti oleh para peserta FKKS, mereka menampilkan kesenian daerah masing-masing untuk ikut memeriahkan acara Pawai Pelangi Budaya. Meski acara Pawai Pelangi Budaya ini sempat diguyur hujan mulai dari siang hingga sore hari namun acara ini tetap berlangsung meriah. Para peserta tetap menampilkan kesenian-kesenian mereka meskipun make up dan pakaian basah kuyup namun mereka tetap semangat. Selain diikuti oleh peserta FKKS, Pelangi Budaya ini juga berkolaborasi dengan Universitas Negeri Surabaya Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Sendratasik, yang saat itu membawakan beberapa lagu daerah kontemporer dan peragaan cerita Perang Puputan Bayu yang menjadi ikhwal Hari Jadi Kota Banyuwangi. Pada Pelangi Budaya ini, para peserta FKKS menyuguhkan kesenian khas daerah mereka. Kabupaten Jember menampilkan JEFEN Patrol, Kabupaten Trenggalek menampilkan Turangga Yaksa, Kabupaten Lumajang menampilkan Laskar Lumajang, Kabupaten Blitar menampilkan Andhong, Kabupaten Pacitan menampilkan Tari Eklek, Kabupaten Tulungagung menampilkan Reog Kendang, Kabupaten Malang menampilkan Grebeg Sabrang, Kabupaten Ponorogo menampilkan Reog Ponorogo. Hadir pula undangan kita dari pulau seberang yaitu dari Jembrana Bali menampilkan Dasamuka.
            Kemeriahan dalam puncak Harjaba ini yang diisi dengan berbagai pertunjukkan kesenian daerah ini bertujuan untuk melestarikan seni tradisi dan kebudayaan yang ada di Banyuwangi agar semakin majunya tekhnologi budaya ini tidak semakin luntur melainkan semakin lestari dan menjadi seimbang dengan kecanggihan tekhnologi. Sesuai dengan tema Harjaba tahun ini “Dengan Hari Jadi Banyuwangi yang ke 237 kita lestarikan....” masyarakat Banyuwangi tidak ingin warisan nenek moyang yang telah dilaksanakan secara konstan ini hilang begitu saja karena budaya mencerminkan sebuah bangsa dan menjadi titik tolak perkembangan bangsa ini.
            Pada intinya Banyuwangi ditengah-tengah globalisasi yang modern selain berusaha untuk tetap uptodate Banyuwangi juga berusaha untuk tetap memberdayakan dirinya dan tidak lupa mengenai asal-usul dan aspek-aspek yang telah membuatnya lebih dikenal dikalangan umum. Karena dari aspek-aspek itulah Banyuwangi lahir, tumbuh, berkembang dan belajar menghadapi tantangan-tantangan yang akan selalu ada dan terus ada selama Banyuwangi masih ada dan Banyuwangi akan tetap ada sampai kapanpun. “HIDUP LARE OSING, JAYALAH BUMI BLAMBANGAN”


DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi
Guide Hand Banyuwangi Calender Even 2008




















MASYARAKAT DAN KESENIAN INDONESIA




Perkembangan Kebudayaan di Indonesia dalam Kaitannya dengan Kehidupan Sehari-hari




EUNIKE YOANITA
120710071

DEPARTEMEN
SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2008

A. PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan ataupun disebut peradaban, mengandung pengertian luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat.
Kebudayaan = cultuur (Belanda) = culture (Inggris) = tsaqafah (Arab); berasal dari perkataan Latyn “colere” yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti inilah berkembang arti culture sebagai “segala daya dan aktifitas manusia untuk mengolah dan merobah alam”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebudataan adalah hasil legiatan da penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat-istiadat; keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
Sedangkan menurut Koentjaraningrat, kata “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti “budhi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Sedangkan kata “budaya” merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti “daya dari budi” sehingga dibedakan antara “budaya” yang berarti “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, dengan “kebudayaan” yang berarti hasil dari cipta, karsa dan rasa. Dalam disiplin ilmu antropologi budaya, kebudayaan dan budaya itu artinya sama saja.
Sedangkan dalam bukunya yang berjudul “Primitive Culture”, E.B. Taylor merumuskan definisi kebudayaan secara sistematis dan ilmiah sebagai berikut : Kebudayaan adalah komplikasi (jalinan) dalam keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keagamaan, hukum, adat-istiadat serta lain-lain kenyataan dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat. (Culture is that complex whole which includes knowledge, be life, arts, morals, law, custom and any other capabilities acquired by man as a member society).
Pada umumnya orang mengartikan kebudayaan  dengan kesenian, seperti seni tari, seni suara, seni lukis dan sebagainya. Dalam sundut pandang sosiologi, kebudayaan mempunyai arti yang lebih luas dari pada itu Kebudayaan meliputi semua hasil dari cipta, karsa, rasa, dan karya manusia baik yang materiil maupun non materiil (baik yang berupa kebendaan maupun yang berupa kerohanian).
Kebudayaan materiil adalah : hasil cipta, karsa yang berujud benda-benda atau barang-barang atau alat-alat pengolahan alam, seperti : gedung, pabrik-pabrik, jalan-jalan, rumah-rumah, alat-alat komunikasi, alat-alat hiburan, mesin-mesin dan sebagainya. Kebudayaan materiil ini sangat berkembang setelah lahir revolusi industri yang melahirkan aparat-aparat produksi raksasa.
Kebudayaan non-materiil adalah : hasil cipta, karsa yang berujud kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat, kesusilaan, ilmu pengetahuan, keyakinan, keagamaan dan sebagainya.
Menganalisis konsep kebudayaan perlu dilakukan dengan pendekatan dimensi wujud dan isi dari wujud kebudayaan. Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu:
  1. Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran  manusia: Wujud ini disebut system budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya. Disebutkan bahwa system budaya karena gagasan dan pikiran tersebut tidak merupakan kepingan-kepingan yang terlepas, melainkan saling berkaitan berdasarkan asas-asas yang erat hubungannya, sehingga menjadi system gagasan dan pikiran yang relative mantap dan kontinyu.
  2. Kompleks aktivitas, berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut system social. System social ini tidak dapat melepaskan diri dari system budaya. Apapun bentuknya, pola-pola aktivitas tesebut ditrntukan atau ditata oleh gagasan-gagasan, dan pikiran-pikiran yang ada didalam kepala manusia. Karena saling berinteraksi antara manusia, maka pola aktivitas dapat pula menimbulkan gagasan, konsep, dan pikiran baru serta tidak mustahil dapat diterima dan mendapat tempat dalam system budaya dari manusia yang berinteraksi tersebut.
  3. Wujud sebagai benda. Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya, aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya. Kebudayaan dalam bentuk fisik yang kongkret biasa juga disebut kebudayaan fisik, mulai dari benda yang diam sampai pada benda yang bergerak.
Didalam masyarakat, kebudayaan itu disatu pihak dipengaruhi oleh anggota masyarakat, tetapi dilain pihak anggota masyarakat itu dipengaruhi oleh kebudayaan. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat maka kebudayaan sangat mempengaruhi kehidupan manusia karena adanya hubungan timbale balik antara kebudayaan dan masyarakat. Misalnya : orang Eropa yang beriklim dingin terpaksa harus  membuat pakaian tebal. Jadi jelasnya “kebudayaan” adalah suatu hasil cipta daripada hidup bersama yang berlangsung berabad-abad. Kebudayaan adalah suatu hasil, dan hasil itu dengan sengaja atau tidak sesungguhnya ada dalam masyarakat. Dan pada pokoknya tiap-tiap manusia itu pasti mempunyai budaya, yaitu gejala-gejala jiwa yang dimiliki oleh manusia, dan yang membedakan manusia dengan binatang.
Dengan hasil budaya manusia, maka terjadilah pola kehidupan, dan pola kehidupan inilah yang menyebabkan hidup bersama, dan dengan pola kehidupan ini pula dapat mempengaruhi cara berfikir dan gerak social. Contoh : kehidupan umat Islam di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatra berlain-lain bentuknya, sebab pola kehidupan mereka juga lain, karena adanya pengaruh kebudayaan di daerah itu.

B. ASAL MULA DAN PERTUMBUHAN KEBUDAYAAN
        Cara yang paling baik untuk mengerti dan memahami kebudayaan adalah dengan cara mengetahui asal mula dan pertumbuhannya di alam semesta ini.
        Pada mulanya banyak pendapat mengatakan bahwa asal mula terbentuknya alam ini adalah dari gumpalan-gumpalan awan yang bergerak terus menerus, dan oleh karena perjalanan waktu maka gumpalan-gumpalan awan itu berpencar-pencar menjadi planet-planet. Selanjutnya benda-benda anorganik atau benda-benda mati tersebut oleh adanya pengaruh dari gas, perubahan temperature dan tekanan-tekanan diatasnya, berubah menjadi benda-benda organic atau yang disebut dengan benda-benda hidup, berupa tumbuh-tumbuhan, binatang dan terakhir adalah manusia.
        Manusia kemudian menyusun kebudayaannya dari abad kea bad, yang dinamakan benda-benda super-organik, yaitu yang meliputi daerah penyelidikan sosiologi, antropologi, ekonomi, politik dan psychology. Manusia selaku makhluk yang tertinggi mempunyai 2 macam kemampuan, yaitu menerima warisan dari tingkah laku orangtuanya dan kemampuan belajar (innate and learning).
        Yang termasuk innate misalnya: menyusu, makan, berjalan, memejamkan mata dan sebagainya. Sedang yang termasuk learning misalnya: menggunakan bahasa, berpakaian, menggunakan kendaraan dan sebagainya. Tingkah laku yang melalui proses learning inilah yang dipindahkan manusia dari generasi kegenerasi berikutnya secara terus menerus, dan inilah kebudayaan manusia.
        Kebudayaan yang ada sekarang ini merupakan hasil kumpulan dari beribu-ribu tahun yang lampau sampai sekarang. Kedua jenis kebudayaan, baik kebudayaan materiil maupun non materiil diatur dan dipelihara menurut kepuasan manusia dan disesuaikan dengan kebutuhannya yang lama-kelamaan semakin teratur sehingga merupakan social institution yang merupakan inti dari pada kebudayaan.
       
C. PERUBAHAN KEBUDAYAAN DAN PENYESUAIAN DIRI ANTARBUDAYA
        Dimanapun tempatnya masyarakat dan kebudayaan selalu dalam keadaan berubah, meskipun masyarakat dan kebudayaan primitive yang terisolasi jauh dari berbagai perhubungan dengan masyarakat yang lainnya. Terjadinya perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal:
  1. Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
  2. Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah secara lebih cepat.
Perubahan ini terjadi, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya tekhnologi dan inovasi.
        Perubahan social dan perubahan kebudayaan itu berbeda. Dalam perubahan social terjadi pergeseran struktur social dan pola-pola hubungan social, antara lain system status, hubungan-hubungan di dalam keluarga, system politik dan kekuasaan, serta persebaran penduduk. Sedangkan yang dimaksud dengan perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam system ide yang dimiliki bersama oleh para warga atau sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, anatara lain aturan-aturan, norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan, juga tekhnologi, selera, rasa keindahan(kesenian), dan bahasa. Walaupun perubahan social dan perubahan kebudayaan itu berbeda, namun keduanya sangat berkaitan.
          Salah satu bentuk perubahan social yang terwujud didalam masyarakat dengan kebudayaan primitive maupun dengan kebudayaan yang kompleks(maju) adalah proses imitasi, yang dilakukan oleh generasi muda terhadap generasi tua. Prosesnya dilakukan dengan cara belajar meniru yang belum tentu sempurna, bahkan tak sempurna, dari berbagai pola tindakan generasi orangtua sehingga hasilnya berjalan lambat dan perubahannya baru terasa apabila sudah mencapai jangka waktu yang panjang.

D. PERISTIWA-PERISTIWA PERUBAHAN KEBUDAYAAN
          Perubahan kebudayaan tidak berubah begitu saja namun ditandai oleh peritiwa-peristiwa atau tahapan yang secara tidak langsung merupakan proses daripada perubahan kebudayaan itu. Peristiwa-peristiwa itu antara lain:

Cultural lag
          Cultural lag adalah perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut. Juga suatu lag terjadi apabila irama perubahan dua unsur perubahan (mungkin lebih) memiliki korelasi yang tak sebanding sehingga unsur yang satu tertinggal oleh unsur yang lainnya.

Cultural survival
          Istilah ini ada sangkut pautnya dengan cultural lag karena mengandung pengertian adanya suatu cara tradisional yang tak mengalami perubahan sejak dahulu sampai sekarang. Cultural survival adalah suatu konsep yang lain, dalam arti bahwa konsep ini dipakai untuk menggambarkan suatu praktek yang yang telah kehilangan fungsi pentingnya seratus persen, yang telah hidup dan berlaku semata-mata hanya di atas landasan adat-istiadat semata-mata. Jadi, pengertian lag dapat dipergunakan paling sedikit dalam dua arti, yaitu:
1.     Suatu jangka waktu antara terjadinya penemuan baru dan diterimanya penemuan baru tadi.
2.     Adanya perubahan dalam pikiran manusia dari alam pikiran tradisional kedalam pikiran modern.
Terjadinya cultural lag ialah karena adanya hasil ciptaan baru yang membutuhkan aturan-aturan serta pengertian yang baru yang berlawanan dengan hukum-hukum serta cara-cara bertindak yang lama, tetapi adapula kelompok yang memiliki sifat keterbukaan, malahan mengharapkan timbulnya perubahan dan menerimanya dengan mudah tanpa mengalami cultural lag.

Pertentangan kebudayaan (cultural conflict)
          Pertentangan kebudayaan ini muncul sebagai akibat relatifnya kebudayaan. Hal ini terjadi karena konflik langsung antarkebudayaan. Faktor-faktor yang menimbulkan konflik kebudayaan adalah keyakinan-keyakinan yang berbeda sehubungan dengan berbagai masalah aktivitas berbudaya. Konflik ini dapat terjadi di antara anggota-anggota kebudayaan yang satu dengan anggota-anggota kebudayaan yang lain.

Guncangan kebudayaan (culture shock)
          Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Kalervo Oberg (1958) untuk menyatakan apa yang disebutnya sebagai suatu penyakit jabatan dari orang-orang yang tiba-tiba dipindahkan kedalam suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan sendiri, semacam penyakit mental yang tak disadari oleh korbannya. Hal ini akibat kecemasan karena orang itu kehilangan atau tak melihat lagi semua tanda dan lambing pergaulan social yang sudah dikenalnya dengan baik.


Empat tahap yang membentuk siklus culture shock:
1.        Tahap inkubasi; kadang-kadang disebut tahap bulan madu, sebagai suatu pengalaman baru yang menarik.
2.        Tahap krisis; ditandai dengan suatu perasaan dendam, pada saat inilah terjadi korban culture shock.
3.        Tahap kesembuhan; korban mampu melampaui tahap kedua, hidup dengan damai.
4.        Tahap penyesuain diri; sekarang orang tersebut sudah membanggakan sesuatu yang dilihat dan dirasakannya dalam kondisi yang baru itu; rasa cemas dalam dirinya sudah berlalu.

E. HUBUNGAN ANTARA MANUSIA―MASYARAKAT―KEBUDAYAAN
1.                     Hubungan manusia dengan masyarakat
Manusia hidupnya selalu didalam masyarakat. Hal ini bukan hanya sekedar ketentuan belaka, melainkan memilki arti yang lebih dalam, yaitu bahwa hidup bermasyarakat itu adalah rukun bagi manusia, agar benar-benar dapat mencapai taraf hidup kemanusiaan. Tegasnya dapat mengembangakan budayanya dan mencapai kebudayaannya. Tanpa masyarakat hidup manusia tidak dapat menunjukkan sifat-sifat kemanusiaan. Misalnya: Kala dan Kamala, 2 orang anak perempuan yang ditemukan dalam sarang serigala di India, belum pernah hidup bermasyarakat dan seterlah dibawa dalam kehidupan masyarakat, ia tidak dapat berjalan dan berbahasa.



2.                     Hubungan manusia dengan kebudayaan
Dari sudut antropologi, manusia dapat ditinjau dari 2 segi, yaitu:
·      Manusia sebagai makhluk biologi
·      Manusia sebagai makhluk sosio-budaya
Sebagai makhluk biologi, manusia dipelajari dalam ilmu biologi atau anatomi; dan sebagai makhluk sosio-budaya manusia dipelajari dalam antropologi budaya. Antropologi budaya menyelidiki seluruh cara manusia, bagaimana manusia dengan akal budinya dan struktur fisiknya dapat merubah lingkungan berdasar pengalamannya. Juga memahami, menuliskan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat manusia.
          Akhirnya terdapat suatu konsepsi tentang kebudayaan manusia yang menganalisa masalah-masalah hidup social-kebudayaan manusia. Konsepsi tersebut ternyata memberi kita gambaran bahwasannya hanya manusialah yang mampu berkebudayaan. Sedang pada hewan tidak memiliki kemampuan tersebut. Mengapa hanya manusia saja yang dapat memiliki kebudayaan? Karena manusia dapat belajar dan dapat memahami bahasa, yang kesemuanya bersumber pada akal manusia,
          Kesimpulannya : bahwa hanya manusialah yang dapat menghasilkan kebudayaan. Dan sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa ada manusia.

3.                     Hubungan masyarakat dengan kebudayaan
          Masyarakat adalah kumpulan manusia yang hidup dalam suatu daerah tertentu, yang telah cukup lama, dan mempunyai aturan-aturan yang mengatur mereka, untuk menuju kepada tujuan yang sama.
          Dalam masyarakat tersebut manusia selalu memperoleh kecakapan, pengetahuan-pengetahuan baru, sehingga penimbunan itu dalam keadaan yang sehat dan selalu bertambah banyak isinya. Kebudayaan itu bersifar cumulative, bertimbun.
          Dapat diibaratkan, manusia adalah sumber kebudayaan dan masyarakat adalah suatu danau besar, dimana air dari sumber-sumber itu mengalir dan tertampung. Lalu manusia mengambil air dari danau itu maka dapat dikatakan manusia mengambil air memikul air, sehingga tidaklah habis air dalam danau itu namun bertambah banyak karena selalu ditambah oleh orang yang mengambil air itu.
          Jadi hubungan antara masyarkat dan kebudayaan itu sangatlah erat. Kebudayaan tak mungkin timbul tanpa adanya masyarakat, dan existensi masyarakat itu hanya dapat dimungkinkan oleh adanya kebudayaan.

4.                     Hubungan Manusia―Masyarakat―Kebudayaan
Dengan melihat uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manusia, masyarakat dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam artian utuh. Karena kepada tiga unsur itulah makhluk social berlangsung.
Masyarakat tidak dapat dipisahkan dari manusia, karena hanya manusia saja yang hidup bermasyarakat, yaitu hidup bersama-sama dengan manusia lain dan saling memandang sebagai penanggung kewajiban dan hak. Sebaliknya demikian bahwa manusiapun tidak dapat dipisahkan dari masyarakat, karena seorang manusiayang tidak pernah mengalami hidup bermasyarakat, tidak dapat menunaikan bakat-bakat kemanusiannya yaitu mencapai kebudayaan. Dengan kata lain dimana orang hidup bermasyarakat, pasti akan timbul kebudayaan.
Dengan adanya kebudayaan di dalam masyarakat itu adalah sebagai bantuan yang besar sekali pada individu-individu, baik dari sejak permulaan adanya masyarakat sampai kini, didalam melatih dirinya memperoleh dunia yang baru.
Setiap kebudayaan adalah sebagai jalan atau arah didalam bertindak dan berfikir, sehubungan dengan pengalaman-pengalaman yang mendasar. Karena itulah kebudayaan itu tak dapat dilepaskan dari individu dan masyarakat.

F.    PERKEMBANGAN BUDAYA DI INDONESIA
          Setelah membaca ulasan-ulasan diatas kita tahu bahwa kebudayaan sudah ada sejak manusia diciptakan karena dari manusia-manusia yang bertambah banyak itu berkumpul menjadi suatu masyarakat dimana segala ide, pikiran, dan gagasan dituangkan yang pada akhirnya menjadi suatu tradsisi atau yang dinamakan dengan kebudayaan.
          Seiring berjalannya waktu kebudayaan tidak hanya pada ruang lingkup itu saja. Generasi-generasi baru bermunculan dan membawa suasana baru dalam setiab budaya yang lama maka dengan seiringnya waktu budaya itu selalu berubah-ubah dan berkembang bersamaan dengan munculnya para generasi baru.
          Namun perubahan dan perkembangan budaya itu tidak jarang menimbulkan protes dikalangan masyarakat yang menganggap bahwa perubahan itu mengurangi nilai kesusilaan dalam perkembangannya. Tetapi pada akhirnya perubahan itu dapat diterima dikhalayak ramai seiring dengan pandangan dan pemikiran untuk mengikuti perkembangan jaman.
          Di Indonesia yang notabene menjunjung tinggi budaya timur yang sangat kental kerap kali diwarnai ketegangan disetiap awal munculnya sebuah perubahan. Kadangkala perubahan-perubahan itu merupakan serapan dari budaya-budaya barat yang liberal dan bertentangan dengan budaya Indonesia.
Seperti budaya berpakaian, bertutur kata, tingkah laku, dll. Beberapa masa lalu budaya berpakaian di Indonesia khususnya kaum wanita menggunakan kebaya panjang dan jarit atau menggunakan pakaian yang tertutup dan tidak mengumbar aurat.  Namun adanya globalisasi para kaum wanita sedikit banyak mulai meninggalkan budaya lama itu dan mencoba hal-hal yang baru dimana banyak sekali menggunakan pakaian-pakaian yang serba terbuka seakan ingin memperlihatkan keindahan tubuh wanita seperti bahu, dada, pusar bahkan paha.
          Dalam sejarah bangsa Indonesia hal itu sangat bertentangan namun toh pada akhirnya mereka menerima dan berkembang di banyak tempat di Indonesia. Juga dalam hal bertutur kata dan bertingkah laku, seorang anak yang harusnya bertutur sopan dan patuh pada orangtua sekarang ini sudah jarang ditemukan. Dari cara mereka berbicara dan bertingkah laku terhadap orangtua seolah-olah orangtua bukan lagi yang harus dihormati tapi seperti seorang teman sebaya saja.
          Tidak hanya dalam segi adapt-istiadat saja. Budaya sering pula diidentikkan dengan kesenian. Dewasa ini banyak sekali muncul aliran-aliran musik keras dan kasar, sinetron-sinetron di televisi yang kurang mendidik namun malah membuat penonton meniru hal-hal yang tidak pantas dilakukan. Munculnya pertokoan-pertokoan besar, tekhnologi yang semakin modern, alat transportasi dan komunikasi  yang semakin cepat, media informasi yang makin canggih. Hal itu telah menggantikan tradisi-tradisi lama yang dianggap kurang efisien.
          Masyarakat lebih memilih kehidupan yang serba instant, tidak membutuhkan banyak tenaga namun mendapat manfaat yang besar. Semua perubahan itu selain mengadaptasi dari Negara-negara maju juga timbul karena adanya keinginan seseorang atau kelompok untuk menikmati hidup dengan lebih baik dan mudah.
          Lambat laun hal itu akan berkembang akan adanya kesulitan hidup yang pada akhirnya memiliki peluang besar untuk menutup pemahaman mereka akan pentingnya nilai-nilai kesopanan, kesusilaan dan tidak menutup kemungkinan menjadi masyarakat yang atheis, cuek, egois dan mendewakan kemajuan tekhnologi.
























KESIMPULAN

Di dalam proses perubahan dan pertumbuhan kebudayaan itu ternyata berjalan secara akumulatif, yaitu terus-menerus, makin lama makin bertambah jumlahnya/bertimbun, sekalipun adapula yang hilang.
Hilangnya unsur-unsur lama digantikan oleh unsur-unsur yang baru baik kualitatif maupun kuantitatif, terutama kebudayaan materiil. Sedangkan dalam lapangan kebudayaan non-materiil, orang dapat berselisih paham tentang kualitatif itu. Tetapi didalam bidang non-materiil orang dapat menilai sangat berbeda tehadap diketemukannya sistim komunisme, lagu-lagu kesenian barat, cara-cara pergaulan dan lain-lain.
Sekarang kembali pada diri kita sendiri bagaiman kita dalam menghadapi perubahn kebudayaan yang tejadi dalam kehidupan kita.